Dibawah ini ada Catatan Panjang Asma Nadia tentang Film AAC
Selamat membaca!
===================================================
Alasan apa yang menggerakkan saya, yang selama ini amat sangat
selektif menonton film-film lokal, dengan suka rela menyaksikan
Ayat-ayat Cinta?
Bukan karena saya jatuh cinta pada novel itu. Sejujurnya agak sulit
buat saya menikmati novel Ayat-ayat Cinta, yang menurut hemat saya
tidak lebih dari kisah cinta biasa, yang dibumbui nilai islam. Poin
lebih novel itu bagi saya adalah setting yang disuguhkan dengan
meyakinkan oleh Habib, dan wawasan keislamannya.
Saya tidak terkesan dengan penokohannya yang cenderung seragam. Tidak
pula terkesan dengan alur yang bagi saya biasa saja itu. Saya sulit
menerima beberapa logika yang ada.
Tetapi saya ikut bahagia bahwa novel itu menjadi bukti keberhasilan
seorang penulis muslim, dari Forum Lingkar Pena. Habib, yang bagi
saya
tidak ubahnya adik itu berhasil membuktikan bahwa novel Islam bisa
sangat komersil. Siapa bilang harus mengumbar ketidaksenonohan untuk
membuat novel anda dilirik tidak hanya pembaca dalam negeri? Siapa
bilang novel menjual ketidakpatutan untuk bisa difilmkan?
Setulus hati saya berbahagia dan mengucapkan selamat untuk Habib. Dan
sebagai bentuk solidaritas dan sayang saya pula, maka saya anggukan
kepala ketika malam itu, kakak saya mengajak saya untuk nonton bareng
AAC usai acara di library@senayan bersama Nasanti, Pritha dan Ari.
Saya tahu banyak yang pesimis pada usaha memfilmkan sebuah novel.
Don't judge the book by its movie! itu yang sering dikatakan orang:)
Tetapi ada juga bisik2 yang sampai ke telinga saya, mengatakan film
ini ditangan Hanung Bramantyo akan lebih dahsyat dari novelnya,
"Menurut Hanung, ini merupakan karya terbaik dia," kata seorang teman
lagi. Begitu saja optimisme menyeruak di kalangan sebagian orang.
Novel best seller ditangan sutradara ternama, siapa yang meragukan?
Dan di situlah saya, duduk bersisian dengan Pritha mencermati adegan
demi adegan dalam film AAC. Saya tahu pasti tidak mudah memeras novel
setebal AAC menjadi bahasa visual dengan durasi 2 jam lebih itu. Dan
mustahil menyuguhkan selengkap versi buku. Tetapi beberapa film
sebutlah Lord of The Ring, Harry Potter, PS. I love you dll, konon
meski tidak penuh mewakili setiap detil di filmnya, tetap mendapat
sambutan baik. Pendeknya penonton tidak kecewa karena bisa menikmati
versi filmnya. Bagaimana dengan AAC?
Film berjalan lambat. Ada sedikit adegan lucu di awal yang sempat
membuat beberapa penonton tersenyum. Tetapi setelahnya film mengalir
datar tanpa konflik yang membetot seluruh rasa penasaran dan emosi
saya sebagai penonton. AAC tidak ubahnya cinta segiempat beda negara,
Fahri yang orang Indonesia, dengan Maria Girgis tetangga satu flat
yang beragama Kristen Koptik, Fahri dengan Nurul-ah yang ini sama2
Indonesia, lalu Fahri dengan Noura (Mesir), dan terakhir Fahri dengan
Aisha (German).
Menyaksikan cast satu-satu pemain, saya mulai merasa tidak kuat. Saya
merasa usaha sutradara untuk 'membohongi' saya dengan film ini
benar-benar keterlaluan. Bagaimana saya bisa memercayai bahwa Surya
Saputra sebagai orang German? Sementara sosoknya (bukan sekadar
berkulit putih ya...) kental di ingatan saya sebagai pemain film
Indonesia. Saya menolak memercayai Zaskia Mecca sebagai orang Mesir,
saya tidak bisa menerima Marini sebagai orang Mesir. Banyak lagi
cacat
dari segi casting ini... Sutradara menempatkan pemain2 yang sudah
dikenal baik di Indonesia dan berupaya 'memalsukan' mereka, tidak
ubahnya sandiwara-sandiwara atau film-film zaman dulu di mana yang
berperan sebagai tentara Belanda adalah pemain dengan tampang
Indonesia juga. Parahnya pemeran yang dipilih punya sosok yang kadung
kuat di ingatan penonton.
Batin saya tersiksa menyaksikan pertemuan Fahri dengan Aisha di
kereta. Ketika seorang penumpang (ceritanya dia 'orang mesir') nyaris
berkelahi dengan Fahri dan menyebut, "Ya Indonesia!"
atau adegan lain ketika Fahri di penjara... di mana seorang dengan
tampang jelas2 Indonesia, bicara dengan bahasa Indonesia, tetapi
berperan sebagai bukan orang Indonesia, dan menyebut Fahri dengan
"Indonesia!"
Jeruk kok minum jeruk... begitulah perasaan saya.
Bagaimana dengan sosok Fedi Nurul sebagai Fahri? Dalam salah satu
blog
saya membaca alasan utama Mas Hanung memilih Fedi: Fahri bukan lelaki
sempurna. Tapi yang membuat Fahri tampak sempurna karena dia sadar
bahwa dirinya tidak sempurna."
Tapi Fahri versi Hanung Bramantyo tidak membuat saya teryakinkan
bahwa
laki2 itu telah menjadi sumber patah hati akut hingga depresi begitu
banyak gadis. saya tidak jatuh cinta bahkan tidak juga bisa sekadar
menerima alasan kenapa para gadis itu sedemikian terobsesinya pada si
Fahri ini?
Perlu seseorang yang sangat amat kuat untuk memerankan Fahri hingga
penonton teryakinkan. Fahri di sini makin lama makin cengeng... Cara
berdirinya, caranya memandang, terutama cara membantahnya terhadap
Aisha, yang lebih terlihat sebagai gerutuan anak kecil kepada ibunya,
ketimbang protes atau nasihat seorang suami kepada istrinya (adegan
makan bersama dengan Aisha, Maria, dan ibunya dengan Fahri, adegan
laptop, pertengkaran ketika keluarga Nurul datang).
Logika cerita?
Nggak kalah kacaunya.
Proses menemukan Noura yang sudah setidaknya belasan atau bahkan 20
tahunan tertukar dari orang tua asli, terjadi secepat kilat. Pertama
Fahri meminta tolong seseorang, kemudian sim salabim... tanpa ada
proses yang terlihat (make a call perhaps? atau sedikit kesibukan
lain
sebagai upaya pencarian?) adegan berikutnya adalah Noura bertemu
dengan orang tua kandungnya.
Adegan Fahri berta'aruf dengan Aisha pun sulit diterima logika.
Bagaimana bisa Fahri yang selama ini saleh dan memiliki konsep
tentang
soul mate (jodoh) yang sedemikian, juga wawasan keislaman yang
mantap,
dan karenanya belum juga menikah itu, dengan mudah memutuskan
menikahi
Aisha hanya beberapa detik setelah Fahri memandang dengan tidak
berkedip wajah Aisha setelah membuka cadarnya... Yang membuat saya
membatin: fisik sekali... alasan Fahri menikahi Aisha! Tidak ada
diskusi, atau surat2an atau upaya mencari tahu dari pihak lain, yang
membuat Fahri mengenal cara pandang, kecerdasan, kelebihan2 lain dari
Aisha kecuali beberapa pertemuan singkat yang tidak membahas hal2
yang
esensi (Aisha jatuh cinta pada wawasan Fahri, oklah ada bbrp
lanjaran.. tetapi sebaliknya? Begitu mudah?).
Yang lebih meletihkan adalah adegan yang sebagian besar indoor, yang
benar2 membunuh justru kelebihan utama dari novel ini: setting.
Sia-sia berharap bisa melihat keindahan sungai Nil, dan Mesir.
Sekalinya ada adegan outdoor, jauh dari romantis malah terkesan norak
habis, adalah adegan Fahri berboncengan unta dengan Aisha di padang
pasir.
Kekacauan logika lain, yang terlihat amat dipaksakan adalah
permintaan
Aisha agar Fahri menikahi Maria yang terbaring koma. Fahri yang tidak
punya pendirian itu pun (utk orang secerdas dan sebagus itu pemahaman
islamnya, gitu lho:P) menurut, hanya sedikit menyampaikan bantahan
yang tidak meyakinkan. Btw terlihat dari awal pernikahan dengan Aisha
di mata saya Fahri terlihat tak ubahnya suami-suami takut istri:P
Dan ajaib, kunjungan sekali Fahri dan pernikahan kilat yang dilakukan
ketika Maria sedang koma, pun membangunan Maria dari koma panjangnya.
Sungguh luar biasa!
Secara keseluruhan, film AAC jauh dari proporsional. Di bagian
awal-awal yang tanpa konflik mendapat porsi lebih dari yang
seharusnya. Sementara adegan penting di mana konflik dimulai (tuduhan
terhadap Fahri) dan penyelesaiannya kurang mendapat porsi, hingga
meninggalkan ketidakjelasan di beberapa bagian.
Menonton AAC memberikan saya penderitaan yang tidak usai bahkan
ketika
kami meninggalkan bioskop, dan berkendaraan pulang. Mungkin karena
sosok Fahri yang kurang meyakinkan itu lagi, saya sulit menerima
potret perempuan yang ditampilkan. Satu perempuan yang terobsesi dan
depresi karena cinta tidak bersambut, okelah. Tapi tiga??? Satu lagi,
saya tidak melihat ada penggambaran usaha Fahri mencari nafkah,
selain
hanya disebutkan dalam kalimat sekilas (Penonton diberitahu, tidak
'ditunjukkan'). ketidakterlibatan keluarga Aisha yang kaya ketika
Fahri dipenjara, juga sulit diterima, apalagi Fahri terancam hukuman
mati. momen yang rasanya amat membutuhkan dukungan keluarga.
yang saya tidak mengerti kenapa persoalan teknis (perpindahan adegan)
dan editing terasa kasar? Kalah oleh film2 Indonesia yang lain.
Sesuatu yang seharusnya tidak terjadi dalam film besutan sutradara
sekelas Hanung Bramantyo.
Terakhir, dengan sebegitu banyak cacat yang membuat film AAC menjadi
kisah cinta klise yang membosankan, adakah kebagusan film ini?
Ada, salah satunya soundtrack film.
Apalagi?
Ah, beberapa penonton perempuan cukup mengejutkan kami berenam karena
mereka ternyata menangis. Tentu saja saya tidak boleh berprasangka
buruk bahwa mereka menangis karena sama tersiksanya seperti saya:).
Seperti kata seorang teman, "Bisa jadi film itu memang cukup memadai
buat sebagian penonton, tahu sendiri selera sebagian besar penonton
Indonesia... bisa diukur dari sinetron-sinetron di tivi. Film AAC
memang dibuat bukan untuk penonton macam 'kita'", katanya.
Bagaimanapun ada beberapa pesan al. ketidakberpihakan Habib pada
poligami tertangkap cukup jelas. lainnya AAC jelas jauh lebih sehat
dari film2 hantu belakangan ini yang cuma mencari efek menakutkan
penonton dan tidak berisi.
Maafkan kejujuran saya jika menyinggung beberapa pihak. Tapi bentuk
sayang dan peduli saya kira tidak melulu diekspresikan hanya dengan
pujian. Kritik selalu perlu agar kita, bisa memproses diri menjadi
lebih baik.
-asma nadia
http://anadia.multiply.com